1.Buat Layout sesuai rangkain pada papan PCB,
larutkan mengguna Ferro Clorida untuk membuat jalur layout.
2.Lubangi titik-titik pin pada PCB menggunakan
Drill PCB
3.Pasang dan solderlah komponen pada PCB dengan
posisi yang tepat sesuai rangkaian
4.Gabungkan rangkaian Power supply dan Sensor
cahaya dengan lubang connector pada masing masing layout menggunakan kabel
jumper.
a
5.Setelah
rangkaian selesai, buatlah cassing sesuai selera.
Cara menggunakan Sensor
Suhu:
1.Hubungkan rangkaian pada sumber listrik, maka LED
merah akan menyalah, ini mengindikasikan bahwa alat berada pada tempat yang
terang.
2.Setting/putar potensio meter pada titik yang
tepat, yaitu ketika resistansi membuat LED merah menyala tepat sebelum LED
putih menyala.
3.Tempatkan/kondisikan
sensor LDR pada kondisi yang gelap, bila LED merah mati dan LED putih menjadi
hidup, maka sensor cahaya sudah bekerja dengan baik.
Cara kerja rangkaian:
Kaki nomor 3 pada LM741
berfungsi sebagai Ei, Ei dipengaruhi oleh resistansi pada LDR. Kaki nomor 2 pada
LM741 berfungsi sebagai Vref, Vref dipengaruhi oleh potensio meter. Saat LED
merah menyala, itu berarti Ei telah melampaui Vref, sehingga Vo mengalami
saturasi, tegangan output bernilai (+). Saat LDR tidak menerima cahaya, hal tersebut membuat resistansi LDR bertambah
(naik) sehingga mengurangi besar
tegangan Ei, ketika tegangan Ei tidak melampaui Vref, maka output akan bernilai
negatif, maka LED putih lah yang menyala.
Urine analyzer adalah alat semi-otomatis untuk pengecekan
yang dilakukan diluar tubuh untuk mendapatkan hasil pengecekan urine dengan
hasil yang lebih tepat.
Urine Analyzer digunakan untuk membaca dan mengevaluasi
hasil dari Urine Test Strip. (Contoh: Chemstrip 10MD*, Chemstrip 7, dan Chemstrip 5 OB)
Strip tes urine ini digunakan untuk strip multiparameter
penentuan berat jenis, pH, leukosit, nitrit, protein, glukosa, keton,
urobilinogen,bilirubin dan darah dalam urin.
Urine Analyzer adalah alat fotometer reflektansi
(reflectance photometer).Urine Analyzer membaca strip tes urine pada kondisi
standar, menyimpan hasil ke memori dan menampilkan hasil melalui printer
built-in dan / atau serial interface pada alat tersebut.
Urine Analyzer menstandarisasi hasil ‘Urine Test Strip’
dengan dengan menghilangkan faktor-faktor yang diketahui dapat mempengaruhi
evaluasi/pengecekan secara visual pada
strip tes urine.
CARA KERJA:
Strip uji ditempatkan pada baki geser, lalu motor penggerak
bergerak kedalam alat pembaca.
Analisa pad membaca referensi, diikuti oleh masing-masing
dari bagian uji pada strip. Alat pembaca berisi LED yang memancarkan cahaya
pada berbagai macam panjang gelombang.
Pembacaan dilakukan secara ‘electro-optically’ yang
dilakukan sebagai berikut:
LED memancarkan cahaya dari panjang gelombang yang
ditetapkan ke permukaan test pad pada sudut optimal. Lampu yang mengenai ‘test
zone’ (zona uji) terpantul secara proporsional dengan warna yang dihasilkan
pada test pad dan ditangkap oleh detektor.
Sebuah phototransistor diposisikan tepat di atas zona uji.
Phototransistor mengirimkan sebuah sinyal listrik analog ke A / D converter,
yang berubah ke bentuk digital.
Mikroprosesor kemudianmengkonversi pembacaan digital menjadi
nilai reflektansi relatif dengan mengacu pada standar kalibrasi.
Akhirnya, sistem membandingkan nilai reflektansi dengan
batas jangkauan yang ditetapkan (reflektansi nilai-nilai yang diprogram ke
dalam analisa untuk setiap parameter) dan output hasil semi-kuantitatif. Setiap
pad tes membaca photometrically sekitar 55-65 detik. Dalam sampel urin yang
sangat basa, Urine Analyzer secara otomatis mengoreksi hasil tes berat jenis
Berikut ini adalah daftar prinsip-prinsip uji spesifik untuk
setiap parameter:
Berat Jenis: Dengan adanya kation, proton yang dilepaskan
oleh zat pengompleks dalam pad tes. Indikator bromthymol biru perubahan dari
biru melalui biru-hijau ke kuning.
Uji pH: pad pengujian berisi indikator metil merah dan
bromthymolbiru. Indikator-indikator ini memberikan perbedaan warna yang jelas
pada rentang pH dari 5 sampai 9.1, Dua
warna berkisar dari oranye ke kuning dan hijau ke biru.
Uji Leukosit: leukosit granulocytic mengandung esterases
yang mengkatalisis hidrolisis dari suatu indoxylcarbonic asam ester menjadi
indoxyl. Indoxyl yang terbentuk bereaksi dengangaram diazonium untuk
menghasilkan warna ungu.
Uji Nitrit: Nitrit, jika ada, akan bereaksi dengan amina
aromatik untuk memberikan garam diazonium, lelu terangkai dengan senyawa lebih
lanjut, menghasilkan pewarna merah-ungu azo
Uji Protein: Tes ini didasarkan pada perubahan warna
indikator 3 ', 3 ",5', 5"-tetrachlorophenol-3, 4, 5,
6-tetrabromosulfophthalein dengan adanya protein. Reaksi positif ditunjukkan
dengan perubahan warna dari kuning ke hijau muda atau hijau
Uji Glukosa: deteksi Glukosa didasarkan pada metode
enzymatic glucose oxidase/peroxidase (GOD/POD) atau oksidasi /peroksidasi
glukosa enzimatik Reaksi oksidasi glukosa memanfaatkan enzim untuk
mengkatalisis pembentukan asam gluconic dan peroksida hidrogen dari oksidasi
glukosa. Selanjutnya, enzim kedua, peroksidasi,mengkatalisis reaksi hidrogen
peroksida dengan chromogen tetramethylbenzidine untuk membentuk kompleks
pewarna hijau. Reaksi positif ditunjukkan dengan perubahan warna dari kuning ke
hijau
Uji Keton:
Berdasarkan prinsip Legal’s Test, natrium nitroprussidedan glisin bereaksi
dengan asetoasetat dan aseton dalam media alkali untuk membentuk kompleks
pewarna ungu.Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna dari krem ke ungu
Uji Urobilinogen: Urobilinogen digabungkan dengan
4-methoxybenzene-diazonium-tetrafluoroborate dalam asam media untuk membentuk
zat warna azo merah
Uji Bilirubin: Deteksi bilirubin berdasarkan pada reaksi
penggabungan dari garam diazonium dengan bilirubin dalam suatu asam menengah.
Reaksi menghasilkan warna merah muda menjadi merah-ungu sebanding dengan
konsentrasi totalbilirubin (Beberapa pengguna dapat menggambarkan ini sebagai
krem pada warna persik.)
Uji Darah: Hemoglobin dan mioglobin, jika ada,
mengkatalisisoksidasi indikator dengan peroksida organik terkandung dalam tes
pad. Eritrosit hemolisis utuh pada tes pad dan hemoglobin membebaskan
hemoglobin yang menghasilkan suatu titik hijau. Karena test pad menyerap
beberapa microliter urin, eritrosit akan lebih terlihat. Pada set yang terpisah
dari blok warna yang mewakili eritrosit dan hemoglobin. Titik hijau tersebar
atau dipadatkan pada pad tes kuning adalah indikasi dari eritrosit utuh, atau
mioglobin.
Contoh penggunaan urine analyzer.
Parameter dan panjang gelombang yang ditinjau oleh Urine
Analyzer pada Strip Test
AWG: American Wire Gage. Standarisasi berdasarkan diameter kawat/kabel.
Battery: Sumber energi yang menggunakan reaksi kimia untuk mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
Capasitor: alat listrik yang memiliki kapasitansi.
Choke: Istilah umum yang berkaitan dengan Induktor. Digunakan untuk memblokir frekuensi tinggi.
Circuit: Interkoneksi komponen listrik yang dirancang untuk menghasilkan alat yang diinginkan. Rangkaian dasarnya terdiri dari sebuah sumber, beban, dan jalur.
Circular Mil (CM): Satuan dari luas penampang kawat.
Close Circiut: Sirkuit dengan jalan arus.
Coil: Istilah untuk sebuah Induktor untuk gulungan primer atau sekunder dari transformator.
Coulumb: Satuan muatan listrik.
Elektron: Partikel dasar dalam mualan listrik yang bermuatan negatif.
Elektronik: Berkaitan dengan pergerakan dan kontrol elektron bebas.
Energi: kemampuan untuk melakukan kerja.
Fuse/Sekring: Perangkat pelindung yang akan terbakar ketika kelebihan arus dalam sirkuit.
Generator: Sumber energi yang menghasilkan listrik.
Induktor: Alat listrik yang memiliki kemampuan untuk menyimpan energi dalam medan magnet yang dibuat oleh arus.
Insulator: Bahan yang tidak memungkinkan arus dalam kondisi normal.
Joule: satuan unit dari energi.
Konduktansi: Kemampuan sirkuit untuk mengalirkan arus. (Satuan: Siemen (s)).
Konduktor: Bahan dimana arus listrik dapat mengalir secara relatif.
Listrik: berhubungan dengan penggunaan tegangan (voltase) dan arus (current) untuk menghasilkan listrik.
Load/Beban: perangkat di sirkuit dimana pekerjaan dilakukan.
Neutron: Partikel atom yang tidak bermuatan (netral).
Ohm: satuan dari resistansi.
Ohmmeter: alat untuk mengukur resistansi.
Open circuit: Sirkuit yang jalur arusnya tidak lengkap.
Potensio meter: resistor variabel dengan 3 terminal.
Power Supply: Alat yang memproduksi tegangan, arus, dan daya dari perangkat AC/Baterai yang digunakan dalam berbagai aplikasi untuk perangkat elektronik.
Proton: Partikel atom bermuatan positif.
Resistansi: Tahanan, belawanan dengan arus. satuannya ohm.
Rheostat: Variabel resistor dengan 2 terminal.
Semikonduktor: bahan yang mempunyai nilai konduktansi di antara konduktor dan isolator.
Swith: Alat yang membuka-menutup arus listrik.
Toleransi: batas variasi dari nilai komponen.
Volt: satuan dari tegangan, atau gaya gerak listrik.
Voltase/tegangan: sejumlah elktron dari satu titik ke titik0titik lain dalam sirkuit listrik.
Teknik Elektromedik mempelajari bidang instalasi, pemeliharaan, troubleshooting, perbaikan dan kalibrasi peralatan kesehatan. Contohnya mempelajari alat Radiologi (Alat Rontgen, Mammography, CT-Scan, dll), Alat Laboratorium (Mikroskop, Photometer, Centrifuge, dll) dan alat lain seperti ECG, Ventilator, Electro Surgery dan lainnya.
Mata Pelajaran dalam Teknik Elektro Medik diantaranya:
Elektronika Dasar-Lanjutan
Rangkaian Listrik
Alat Radiologi
Teknik Biomedik
Alat Elektrik Medik
Fisika Dasar-Lanjutan
Matematika Dasar-Lanjutan
Kimia Klinik
Anatomi Fisiologi
Mikrokontroler
Pemrograman
Kesehatan Masyarakat
Managemen RS
Prospek Kerja Lulusan Teknik Elektromedik (Tenaga Elektromedis)
Politeknik Kesehatan Jakarta II adalah penggabungan dari:
Akademi Gizi Jakarta yang telah berdiri sejak 4 September 1950,
Akademi Kesehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Jakarta yang telah berdiri sejak tahun 1950
Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi/Penata ronsen (Atro) yang telah berdiri sejak tahun 1970
Akademi Teknik Elektromedik (Atem) yang telah berdiri sejak 1 April 1967.
Alamat : Jl. Hang Jebat III Blok F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120 Pendiri: Kementrian Kesehatan RI
Jenjang pendidikan: D3 dan D4 (beberapan jurusan) Luas kampus: 2.500 m2
Jurusan - jurusan yang ada dalam Politeknik Kesehatan Jakarta II adalah :
Teknik Elektromedik
Teknik Radiodiagnostik & Radioterapi
Teknik Gigi
Gizi
Kesehatan Lingkungan
Farmasi
Analisa Farmasi dan Makanan
Politeknik Kesehatan Jakarta II berlokasi di 3 ( tiga) kampus yaitu :
Kampus A, Jl.Hang Jebat III, F3, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Kampus B, Jl.Percetakan Negara No.23 Jakarta Pusat.
Kampus C, Jl. Ragunan No 29 C, Jakarta Selatan
Program Studi:
1.Jurusan Kesehatan Lingkungan (Kampus A)
a. Prodi Kesehatan Lingkungan Jakarta
b. Prodi D4 Kesehatan Lingkungan
2.Jurusan Teknik Elektromedik (Kampus A)
a. Prodi Elektromedik Jakarta
b. Prodi D4 Elektromedik Jakarta
3.Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (Kampus A)
a. Prodi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
b. Prodi D4 Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
4.Jurusan Gizi (Kampus A)
a. Prodi Gizi
b. Prodi D4
5.Jurusan Teknik Gigi (Kampus A)
6.Jurusan Farmasi (Kampus B)
7.Jurusan Analisa Farmasi dan Makanan (Kampus C)
Sejarah:
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan Politeknik merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa Politeknik menyelenggarakan pendidikan profesional, terdiri atas Program Diploma dan Program Spesialis dengan mengutamakan peningkatan kemampuan penerapan ilmu pengetahuan serta lebih mengarah pada kesiapan penerapan pada keahlian tertentu.
Dibentuknya Politeknik Kesehatan Jakarta II dapat dilihat dari sejarah Akademi-Akademi Kedinasan dibawah naungan Departemen kesehatan RI, yang mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan. Pada tahun 1991 dengan dikeluarkannya surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 095/MenKes/SK/II/1991, tentang Akademi - Akademi Kedinasan Departemen Kesehatan menjadi Pendidikan Ahli Madya Kesehatan.
Pada tahun 1993 dengan dikeluarkannya surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 535/ Menkes/SK/VII/1993 tanggal 10 Juli 1993 tentang organisasi dan tata Kerja Akademi-Akademi Kedinasan Departemen Kesehatan, Pendidikan Ahli Madya berubah kembali menjadi Akademi.
Pada tahun 2001 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No : 298/MenKes dan KesSos/SK/IV/2001, tertanggal 16 April 2001 tentang Organisasi dan tata Kerja Politeknik Kesehatan maka 7 (tujuh) Akademi yang terdiri dari Akademi Teknik Elektromedik, Teknik Radiodiagnostik & Radioterapi, Teknik Gigi, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Farmasi, Analisa Farmasi dan Makanan berubah status jurusan dibawah institusi Politeknik Kesehatan Jakarta II.